hilang
lama aku tak menulis. ada keinginan untuk hilang, menghilang begitu saja dari segalanya. aku hanya ingin terbebas dari segala rasa, segala kepentingan. ya, menghilang !
.: damai 40, 12 januari 2009
Filed under titik waktu | Comments (7)syair saraba ampat
Saraba Ampat
[Datuk Sanggul]
.: hormat dan takjimku
____________________________
Allah jadikan saraba ampat
Syari’at tharikat hakikat makrifat
Menjadi satu di dalam khalwat
Rasa nyamannya tiada tersurat
Huruf ALLAH ampat banyaknya
Alif I’tibar dari zatNya
Lam awal dan akhir sifat dari asma
Ha isyarat dari afalNya
Jibril Mikail malaikat mulia
Isyarat sifat Jalal dan Jamal
Izrail Israfil rupa pasangannya
I’tibar sifat Qahar dan Kamal
Jabarail asal katanya
Bahasa Suryani asal mulanya
Kebesaran Allah itu artinya
Jalalullah bahasa Arabnya
Nur Muhammad bermula nyata
Asal jadi alam semesta
Saumpama api dengan panasnya
Itulah Muhammad dengan Tuhannya
Api dan banyu tanah dan hawa
Itulah dia alam dunia
Menjadi awak berupa-rupa
Tulang sungsum daging dan darah
Manusia lahir ke Alam Insan
Di Alam Ajsam ampat bakawan
Si Tubaniyah dan Tambuniyah
Uriyah lawan si Camariyah
Rasa dan akal daya dan nafsu
Di dalam raga nyata bersatu
Aku meliputi segala liku
Matan hujung rambut ka hujung kuku
Tubuh dan hati nyawa rahasia
Satu yang zhahir amat nyatanya
Tiga yang bathin pasti adanya
Alam Shagir itu sabutnya
Mani Manikam Madi dan Madzi
Titis manitis jadi manjadi
Si anak Adam balaksa kati
Hanya yang tahu Allahu Rabbi
Kaampat ampatnya kada tapisah
Datang dan bulik kapada Allah
Asalnya awak daripada tanah
Asalpun tanah sudah disyarah
Dadalang Simpur barmain wayang
Wayang asalnya si kulit kijang
Agung dan sarun babun dikancang
Kaler bapasang di atas gadang
Wayang artinya si bayang-bayang
Antara kadap si lawan tarang
Samua majaz harus dipandang
Simpur balakun hanya saurang
Samar Bagung si Nalagaring
Si Jambulita suara nyaring
Ampat isyarat amatlah panting
Siapa handak mancari haning
sajak airmata
airmata. kau hadir tiba tiba gembira. airmata. kau basuh duka. airmata. kau larutkan tukak luka. airmata. o…. airmata.
airmata. dari hati kau bermuara. airmata. persenyawaan rahasia rasa.
airmata. apa yang lebih tepat untuk mewakili segenap rasa yang terasa dalam perjalanan rasa?
//// .: damai 40, 26.11.08
Filed under cermin | Comments (5)menyusuri kota kota jiwa
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKU, dan masuklah ke dalam surgaKU.” [Q.S. Al Fajr (89): 27-30].
Segala puji hanyalah kepunyaan Allah, yang telah menjadikan sebab untuk segala perkara, serta menurunkan kitab (Al Quran) yang mengagumkan, yang mengandung segala hikmah dan keterangan, kepada hambaNya. Mudah-mudahan sholawat dan salam senantiasa di limpahkan kepada Sayyidina Muhammad SAW, makhluk yang paling mulia. Beliau merupakan manusia paling suci nasab dan keturunannya. Sholawat dan salam, juga mudah-mudahan senantiasa dilimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya yang mulia lagi terhormat.
Mulai hari ini aku mencoba untuk menghadirkan beberapa buah karya dari para Kekasih Allah dengan asa semoga abjad yang terangkai menjadi kalimat-kalimat penuh makna dapat menjadi penyejuk jiwa dan pelepas dahaga kita dalam menjalani hidup di dunia yang hanya sesaat dan penuh dengan tipu daya ini.
Sebagai preambule, maka berikut adalah sebuah karya Syekh Muhammad Shadiq Naqsyanbandi Ezinjani, semoga Allah menyucikan ruhnya. Al Fathihah.
>><<
MENYUSURI KOTA-KOTA JIWA
[Syekh Muhammad Shadiq Naqsyanbandi Ezinjani]
Kala aku mengembara di dunia fana ini, Allah menunjukiku jalan yang lurus. Ketika menelusuri jalan itu di antara tertidur dan terjaga, seolah-olah dalam mimpi, aku tiba di sebuah kota yang amat gelap. Kota itu sangatlah luas sehingga aku tidak dapat melihat atau memperkirakan batasnya. Kota ini dihuni olah manusia dari beragam bangsa dan ras. Begitu sesaknya jalan-jalan, orang sulit berjalan. Begitu gaduhnya, sehingga orang sulit mendengar ucapan orang lain. Semua perbuatan buruk dari segala mahkluk, semua dosa yang kuketahui maupun tidak kuketahui, mengelilingiku. Dalam rasa takjub dan kagum, aku menyaksikan pemandangan aneh.
Nun jauh di sana, di bagian tengah kota ini, ada kota lain dengan dinding yang tinggi dan besar.
Apa yang kusaksikan di sekelilingku membuatku berpikir bahwa sejak semula cahaya matahari kebenaran tak pernah menerangi kota ini. Tidak hanya langit, lorong-lorong, dan rumah-rumah di kota ini yang berada dalam gelap gulita, tetapi para pendudknya bagaikan kelelawar, mempunyai pikiran dan hati sepekat malam. Sifat dan perbuatan mereka laksana anjing-anjing liar. Saling menyalak dan menggigit satu sama lain hanya demi memperebutkan sesuap makanan dengan penuh nafsu dan amarah. Merekapun saling mencabik. Kesenangan mereka hanyalah bermabuk-mabukkan dan berhubungan seks tanpa rasa malu, tanpa membedakan pria dan wanita, istri dan suami, dan sebagainya. Berdusta, menipu, mengumpat, memfitnah, dan mencuri menjadi kebiasaan mereka tanpa rasa peduli kepada yang lain, tanpa sadar atau takut kepada Allah. Banyak yang mengaku muslim. Sebenarnya, sebagian dari mereka dianggap sebagai orang bijak – para syekh, guru, ulama, dan dai.
Sebagian mereka yang mengetahui perintah-perintah Allah, tentang yang halal dan haram, berupaya mengatasi hal itu dan menemukan kepuasan di dalamnya dan tak lagi berhubungan dengan penduduk kota itu. Para penduduk kota tidak bersikap ramah terhadap mereka. Aku dengar mereka berlindung di dalam kota berdinding yang kulihat berada di bagian tengah alam ini. Continue reading »
Filed under sastra sufi | Comments (3)8
[1]
benar, tak ada yang abadi. sebab
api membakar tungku
katakan busuk
ampas sekarung beras banci
untuk ku malam ini
bukan, keabadian sekedar
epilog nyaris
keranda putih kerak senja
ajak bahu gamit tungkai
nyaris lunglai
tapi. bukanlah sebab
ah. basa basi basi
ngengat ngilu nyinyir
>><<
[2]
berlahir baru. bakar
entah siapa mengapa apa dimana bagaimana bila
busuk bangkai busuk dalam rusuk busuk tertusuk akal busuk
semerbak anyir anyelir kunir
inikah ?
cinta. masih disini
>><<
[3]
aku. bukanlah bidan yang ikut membantu proses persalinanmu. juga bukan lelaki yang menyemburkan sperma idealisme ke dalam liang kesadaran. dengan gagah berani. bukan. bukan, sayang.
aku. bukanlah bunda yang mengandung dirimu, janin dendam kesetaraan, kebersamaan, keabadian. saat hari pertama kehadiranmu aku tak menjenguk. pun sekali aku serta merayakan hari kesialanmu hadir di muka mimpi. sebuah ruwatan yang sederhana. ya, sederhana sayang.
aku. hadir ke bilik harimu melintas hanya tunaikan janji purba. menepis pengasong ilusi kunjungi tengkuk keremangan diri. bendungan huni titah diri tatah luka. terluka sayang. kau terluka, sayang.
aku. takan lupa telah makan dirimu. menjual mancung hidung wajah bulumu. menjajakanmu di etalase salam lestari. salam lestari, sayang. sayang hanya salam yang lestari.
aku. tahu kau sekarat kini.
aku. pupus mimpi ? TAK !
>><<
.: nopember 2008
[kini. 8 tahun kau, sayang]
Filed under titik waktu | Comments (3)puisi untuk h_p
kau menggigil sayang, gemeretak geraham kudengar di tiktaktiktak degup nadimu
berdenyut. kau berdenyut sayang
kelak kau sadar makna denyut
kau hempas nafas kemesraan menimpas rejam desau galau
bernafas. kau bernafas sayang
kelak kau sadar hakikat nafas
menarilah sayang
lepaskan beban mimpi semburat lembayung
hangatkan diri di tungku jemari
ya. menarilah, mari menari
kelak kau sadar alasan menari
>>>>
payungku sederhana sangat. lihat, ia tak berwarna
bertakterhingga bilik payungku menaungi diri
bukan. payungku bukan dunia
memayungi ia segenap semesta
hati. darinya payungku
kau ingin berteduh sayang. sejenak ?
marilah merapat, berbagi tempat
rapatlah ke sebalik payung ku
payungku sederhana sangat
maaf. payungku keabadian ia
tak memuat yang hanya sejenak
kau ?
>>>>
.: damai 40, 08112008
Filed under titik waktu | Comments (4)tentang kematian dan ingin [2]
masih dari bram, barudak bandung yang tersesat di samarinda lima tahun belakangan. hingga kini masih enggan pulang. hidup seadanya dari pekerjaan apapun, “yang penting kagak nyolong bang“ , ujarnya suatu waktu.
berikut merupakan penggalan dari kumpulan puisinya yang telah aku posting beberapa waktu lalu. selamat menyimak.
Kumpulan tanya yang sempat hilang
May 16, 2007
Duhai kunci
*****280405-281005
seandainya aku bisa menikmati kopi,
sambil duduk di pinggir jendela kamar,
mengundang senja yang mengintip di balik gunung.
Juga asap rokok yang sudah tentu menemani.
Tapi, dimana kutaruh kunci?!
Seandainya aku bisa berbaring terlentang,
Tentu saja di atas ranjang.
Memeluk guling dan mengamati langit-langit kamar sambil berkhayal.
Tetapi, kemana kutaruh kunci itu?!
Seandainya aku dapat mati!!
Ini sudah tahun ke-2 aku kehilangan kunci.
Dan belum saja kutemui pasti.
Sialan….
Aku terkunci di luar.
Tak dapat masuk.
Pada kehangatan-kehangatan yang kuinginkan,
Pada keinginan-keinginan yang tak kesampaian.
Sialan, kunciku sialan, aku sialan.
Entah ia hilang atau kah menghilangkan diri.
Apa mungkin ia tersesat di benakku yang penuh keinginan?!!
Seandainya aku bisa mati lebih cepat!!
****
Panggilan
Ada yang memanggilku dari kejauhan.
Ada yang menarik ku untuk berdiri.
Ada yang mengajakku untuk melangkah dan berbalik arah.
Dari kejauhan, dari sebatas pandangan.
Kotornya kekotoran diri, duri berdurinya hati.
Aku enggan untuk berdiri.
Ada yang memanggilku dari kejauhan.
Suaranya lantang.
Aku enggan.
Aku terlalu berharga untuk menghampiri.
Ya panggilan itu masih ada.
Aku enggan.
Selebihnya aku mati sambil berdiri.
****
Continue reading »
tentang kematian dan ingin
kami baru saja kenal, tak lebih dari tiga bulan. niat yang sama untuk menyampaikan rasa melalui media musik telah mempertemukan kami. sebuah band yang hingga kini masih belum memiliki nama, sebuah band yang ingin lebih mengenali suara suara indah yang dihasilkan dari alat tetabuhan, petik, dan tiup tradisional kalimantan dibalut dalam nuansa reggae.
kami tersisa berenam malam ini, karena uwi telah pamit lebih dulu. biasa, nganter pulang bininya. maklumlah sudah hampir jam sepuluh. jack, nanang gimbal berada di samping kananku. sedangkan bram tepat didepanku, yogi agak kesebelah kirinya, diseberang meja yang membatasi kami. dan fadil, seperti biasa konsisten milih yang agak ke kiri duduk beralaskan sendal.
“emang sudah ketemu jawabannya bram?”, tanyaku padanya sembari menikmati kopi pada sebuah warung lesehan tempat kami biasa tampil. telah lebih dari sejam kami ngobrol dan kali ini tanpa sengaja arah pembicaraan kami membahas soal hidup yang beragama. bram yang sedang gundah mencoba curhat dan mengajak mendiskusikannya.
“ya. jawaban dari pertanyaanku adalah pertanyaan pertanyaan baru”, ia menjawab. lanjutnya, ”pernah suatu waktu aku melangkah ke perpustakaan kampusku saat di bandung, dan aku tersesat bang.”
“tersesat di perpus atau di dalam buku yang kau baca?”, aku.
“di buku yang kubaca itu. aku bingung memaknainya”, bram.
****
memang begitu bram, manusia sejak terlahir selalu penuh dengan pertanyaan. coba kau amati anak kecil yang sudah mulai belajar berbicara. ia selalu ingin bertanya, bertanya dan terus bertanya. tentang ini, tentang itu, tentang apa saja. dan tabiat ini akan terus berlanjut hingga dewasa bahkan tua. akan selalu banyak pertanyaan dan kita akan semakin dibingungkan. tapi pada dasarnya pertanyaan yang kerap hadir adalah mengenai siapa diri kita sejatinya. ia laksana lambaian mesra dari tangan yang mungkin pernah kita kenal, mengajak kita sejenak merenung, namun diri kita terlalu angkuh dan tetap saja yang mengabaikannya. kita terlalu sibuk dengan dunia, bram. rutinitas kerja, obsesi harta, haus kekuasaan, wanita cantik atau segudang hal lainnya yang sangat menyilaukan kita walaupun pada hakikatnya yang menyilaukan itu bukanlah dunia ini namun cahaya sejati di atas cahaya. Sang Maha Cahaya.
cahaya sejati itulah tujuan kita, bram. saudaraku, pernahkah kau amati pucuk pucuk pepohonan di kerumunan hutan? mereka berlomba untuk menengadahkan sulur sulur dari tajuk tertingginya untuk dapat menggapai cahaya. kau tahu mengapa demikian bram? karena pepohonan memiliki kesadaran bahwa tanpa cahaya yang cukup mereka tak dapat bertahan hidup, akan tersisih, kering dan kerdil. karena mereka sadar bahwa hakikat mereka adalah pepohonan, mereka bukan sejenis pakis ataupun perdu yang dapat hidup dengan hanya pencahayaan yang secukupnya. kau tahu bram, pepohonan juga memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk meneduhkan hutan bagi tumbuhan dan satwa yang sangat bergantung pada mereka. mereka memayungi seisi hutan sehingga burung burung bebas berkicau dan hinggap di ranting ranting mereka atau kerajaan lebah yang bersarang dan menggantung di dahannya.
****
jangan buat diri kita menyesal bram. setelah kita beranjak dari dunia ini dan memasuki sebuah alam pemisah dengan hidup yang abadi, kita baru tersadar tentang makna hidup yang sesungguhnya. bukankah kita baru mengetahui semua kejadian hari ini setelah kita melewatinya? tapi kematian tak dapat mengembalikan kita. kematian yang akan menghantar kita untuk memasuki sebuah pintu gerbang keabadian. kembali kepada kesejatian. pulang. kembali pulang, itulah masa depan kita bram. kembali pulang ke asal, ke masa lalu. masa depan adalah masa lalu. siapkah diri kita mempertanggung jawabkan amanah yang terdapat pada diri ini kepada masa lalu kita di masa depan kita. jasad akan lebur kembali pada asal, tanah. ruh akan pulang, kembali pada yang meniupkannya.
mengapa hanya menyibukkan diri dan menghabiskan jatah kita di dunia ini untuk hanya mengurusi jasad yang sudah pasti akan binasa? buatlah selaras, karena jasad ini adalah amanah. jaga baik baik, tutupi ia. isi tungkunya dengan yang baik, tutupi semua titik yang wajib terlindungi dengan yang baik pula, tak mesti mahal. berikan juga nutrisi yang menyehatkan ruh kita.
****
ya bram, saat ini akupun tengah belajar kembali mengenali diriku. satu persatu mereka mulai memperkenalkan dirinya, tangan, kaki, leher, kepala, perut, dada, wajah, semuanya. aku menjadi malu bram karena selama ini aku terlalu angkuh. semua kerajaan di batang tubuh ini bukanlah milikku. ada pemilik sesungguhnya. biarkan DIA yang mengaturnya. serahkan diri, pasrah pada kehendakNYA. DIA yang maha mengetahui segalanya, termasuk detail apapun yang terbaik bagi diri kita.
bram, mengingat kematian memang sangat baik. termasuk “mati sebelum kita mati”.
****
.: suwandi I 72.
30 oktober 2008
****
berikut ini tulisan dari kawan brama diponayoko;
Tentang kematian dan ingin,
(Baca-lah, bac-alah dan mati-lah saat rasa menghampa)
Untuk Opa yang sekarang sudah berada di tempat yang suatu saat akan menjadi tempatku juga.
“Opa, aku akan segera menemuimu.”
Kata Pembuka
Tulisan ini bukanlah mengenai keputus-asaan, tulisan ini adalah untuk memaknai hidup dan kehidupan ini sendiri. Dengan menatap pada kesakitan, kesendirian, kepahitan dan kematian kita akan lebih memakna bahwa kita masih hidup, masih dapat memperbaiki kesalahan dan kecurangan-kecurangan yang telah kita perbuat. Semoga dengan membaca tulisan ini, anda akan memandang dan memaknai kehidupan yang masih terbentang jauh menuju tempat dimana kebahagiaan adalah tujuan hakiki kita.
****
Aku masih hidup
February 25, 2008
Sampanku abu-abu, mengambang di sungai kelabu.
Senja yang ungu, menemani sendu sendiriku.
Ikuti arus bersama badanku yang kurus.
Tak tahu utara dan tak kutatap berat.
Ya, aku sendiri di dunia tanpa arah angin.
Duniaku penuh haru dan tangis getir.
Aku berkiblat pada dingin,
Cahaya dan tak ada cahaya sama saja.
Benderaku, bendera kuning.
Gelap, tentu gelap.
Rumah-rumah terdiri dari warna-warni saja.
Warna tak natural.
Warna-warna campuran.
Sama seperti tumbuhan dan pepohonan.
Tak ada lagi hijau, biru putih dan hitam tegas.
Merah pun berubah jingga.
Lagu-lagu seperti bunyi tak beraturan,
Suara jangkrik semakin menyakitkan.
Kicauan burung jadi menakutkan.
Dan saat orang-orang telah pergi ke dalam mati,
Aku masih hidup.
Ya, sangat menyakitkan disaat aku sadar.
Aku masih hidup.
****
Filed under kawan | Comments (6)kematian tujuh hari kematian 2
seekor merpati. sayang
belajar terbang. sayang
jangan kau tunggu. sayang
dia tak kan pulang. pasti !
****
kosongkan
dirimu selain. DIA
hiasi
dirimu selain. DIA
****
layang layang terbang tinggi. sayang
terbang tertiup angin. cinta
terulur benang cinta. sayang
putus. cinta sayang
****
mahar pernikahan abadi kupersembahkan
cinta
tebusan cinta abadi kupersembahkan
mati
sejak ku mati
cinta abadi
tak kan mati
lihatlah diriku
hidup kembali setiap waktu
****
.: damai 40, 18 ramadhan 1429 H
Filed under titik waktu | Comment (1)kematian tujuh hari kematian
sepasang daun jendela
terbuka. lebar
menganga tanpa daun
mata jendela mata
pada sebuah gua
lihatlah,
semplah !
****
aku melihat bapak. mati
tujuh hari kematian. bapak
aku melihat aku. mati
mati
membujur
kaku
di dalam gua ku
****
tahlil
bilang takhayul
kau tahu
mati
tahu kau
mati
kau tahu kau
mati
tahlil. semerbak bunga setaman
takhayul. keremangan bunga bangkai
tahlil mati
kematian tahlil
****
.: damai 40, 18 ramadhan 1429 H
Filed under titik waktu | Comment (1)